Beranda Nusantara SMAN 1 Kedokanbunder Bantah Isu Pungutan Infaq Rp2.000, Tegaskan Program “Sapoe Saribu”...

SMAN 1 Kedokanbunder Bantah Isu Pungutan Infaq Rp2.000, Tegaskan Program “Sapoe Saribu” Bersifat Sukarela

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – SMAN 1 Kedokanbunder membantah tegas isu yang menyebut sekolah melakukan pungutan infaq wajib sebesar Rp2.000 kepada para siswa. Pihak sekolah memastikan tidak ada kewajiban maupun unsur paksaan dalam pelaksanaan program sosial yang dijalankan di lingkungan sekolah.

Kepala SMAN 1 Kedokanbunder, H. Abdur Rofiq, S.Pd.Kim., menjelaskan bahwa program yang dilaksanakan bukan pungutan infaq wajib, melainkan bagian dari gerakan “Sapoe Saribu” dalam Program “Poe Ibu” yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

“Kami meluruskan bahwa di SMAN 1 Kedokanbunder tidak ada pungutan infaq Rp2.000 yang wajib. Yang kami laksanakan adalah program ‘Poe Ibu’ sesuai anjuran Bapak Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi. Prinsipnya 100 persen sukarela, tidak ada paksaan, dan tidak ada sanksi bagi siswa yang tidak berpartisipasi,” tegas Abdur Rofiq.

Ia menjelaskan, Sapoe Saribu merupakan gerakan kepedulian sosial dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan sosial, pendidikan, hingga kesehatan bagi peserta didik yang membutuhkan.

Menurutnya, pelaksanaan program tersebut juga telah dilaporkan melalui sistem SIPALAWA milik Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sehingga pelaksanaannya dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Semua transparan. Kami menjalankan program ini sesuai arahan dan mekanisme dari provinsi. Ada pembukuan, ada laporan, dan diawasi. Tujuannya mendidik siswa agar memiliki kepedulian, semangat berbagi, dan gotong royong,” jelasnya.

Ketua Komite SMAN 1 Kedokanbunder, Tarmudi, turut menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Menurutnya, kegiatan itu merupakan bagian dari pendidikan karakter yang menanamkan nilai keikhlasan dan kepedulian sosial kepada peserta didik.

“Kami selaku komite mendukung penuh. Ini adalah pendidikan karakter. Anak-anak diajarkan untuk ikhlas bersedekah, sekecil apa pun nilainya. Sekali lagi, program ini tidak wajib dan tidak ada target nominal bagi setiap siswa,” ujarnya.

Pihak sekolah berharap masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. SMAN 1 Kedokanbunder menegaskan komitmennya untuk menjaga integritas, akuntabilitas, dan transparansi dalam setiap program yang dilaksanakan.

Sekolah juga membuka ruang komunikasi bagi orang tua maupun masyarakat yang ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut.

“Jika ada pertanyaan atau membutuhkan klarifikasi, orang tua maupun wali siswa dipersilakan datang langsung ke sekolah agar memperoleh informasi yang utuh dan benar,” pungkas Abdur Rofiq.

(Herman/Tongol)