Beranda Sindikasi Awal Iedul Fitri 1447 H di Bogor Beda 1 Hari, KH. Ading...

Awal Iedul Fitri 1447 H di Bogor Beda 1 Hari, KH. Ading Jelaskan Alasannya

BOGOR (Aswajanews.id) – KH. Ading Ahmad Nadzir, S.Ag, anggota DPRD Fraksi PKS sekaligus pimpinan Ponpes Al-Furqoniyah Citugu, memberikan penjelasan soal awal Iedul Fitri 1447 H.

Menurut KH. Ading, penentuan awal Syawal tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena hasil hisab menunjukkan hilal belum memenuhi standar minimal pemerintah.

Berdasarkan kajian hisab yang dilakukan, hilal pada 29 Ramadhan 1447 H hanya terlihat 2,11 derajat di atas ufuk. Angka ini masih di bawah ketentuan pemerintah, yakni minimal 3 derajat.

“Karena hilal belum mencapai batas minimal, Ramadhan tahun ini diistikmalkan atau disempurnakan menjadi 30 hari. Akibatnya, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” jelas KH. Ading, Rabu, 18 Maret 2026.

Beliau menambahkan, metode yang digunakan berbeda dengan Muhammadiyah, yang memakai Wujudul Hilal. Dalam metode itu, hilal cukup terlihat di atas ufuk, tanpa batas minimal derajat.

Dengan metode Muhammadiyah, hilal dianggap cukup terlihat walau kurang dari 3 derajat. Akibatnya, Muhammadiyah akan merayakan 1 Syawal 1447 H lebih dulu, yaitu pada Jumat.

KH. Ading menekankan, perbedaan metode hisab ini menjadi alasan mengapa penetapan Iedul Fitri bisa berbeda antara pemerintah, sebagian ormas, dan Muhammadiyah.

Beliau juga menegaskan, keputusan mengikuti hisab dilakukan dengan kajian cermat dan pertimbangan syariat agar masyarakat tetap menjalankan ibadah sesuai kaidah fiqh.

Selain itu, KH. Ading berharap masyarakat tidak bingung dengan perbedaan awal Syawal, karena setiap metode memiliki dasar ilmiah dan syar’i masing-masing.

KH. Ading menambahkan, penjelasan ini sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat agar memahami perbedaan metode penentuan awal bulan.

Masyarakat dihimbau untuk tetap menghormati perbedaan penetapan awal Syawal, menjaga ukhuwah, dan melaksanakan ibadah Iedul Fitri dengan khidmat sesuai metode yang diikuti masing-masing.

Keterangan ini disampaikan KH. Ading Ahmad Nadzir di Kabupaten Bogor, 18 Maret 2026, agar masyarakat memahami perbedaan metode hisab dan hilal serta menentukan awal Iedul Fitri 1447 H.

(Reporter: Uus/Abah Sopar)