Beranda Sindikasi Wahai Angin Kumbang, Bawalah Perubahan Untuk Randusanga

Wahai Angin Kumbang, Bawalah Perubahan Untuk Randusanga

Sebuah harapan yang selalu hadir dalam setiap tahun antara pertengahan bulan Juni sampai September, datangnya “Angin Kumbang” musim baru dan insyaAllah akan membawa semangat perubahan baru bagi masyarakat Randusanga Kulon. Angin spesifik bagi warga yang menanti kekuatan alam menjadi penghalau banjir air pasang di setiap waktu. Berharap pula akan pembawa kesejukan ekonomi dan lingkungan asri masyarakat yang mendambakan pendidikan di sekolah negeri.

Angin Kumbang menjadi realitas nyata, bagi warga pesisir pantai yang ada di Jawa, Brebes nan berhias, yang konon Brebes beres, satu keluarga satu sarjana. Namun kalau tidak terlaksana dengan baik, akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Mari sapa dan sambut angin kumbang yang bukan hanya fenomena alam khas warga Brebes pantura saja. Namun disitu dalam budaya masyarakat pesisir, ada banyak secercah harapan yang dihembus dari gunung kumbang untuk masyarakat yang berada di daratan yang lebih rendah, terkisis oleh air pasang laut yang datang hingga berhari-hari, kadang berminggu-mingu, sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun (abrasi tambak). Hingga menggeser dan menenggelamkan tambak dan sebagian daratan desa menjadi masuk peta wilayah lautan (abrasi).

Kemana peredam air pasang yang sering disuarakan di media, sepertinya hilang tertelan oleh kebijakan ganti pimpinan dan hanya ada pada komoditi janji politik.

Uji kelayakan dari para pakar dan rapat kerja di meja bundar, mungkin kini mejanya rapuh termakan rayap dan kertas rancangan bangunan bisa juga tertelan oleh banjir rob pula. Sebagaimana tertelanya tambak-tambak penopang kehidupan ekonomi warga.

Meja bundar tentu memiliki makna filosofi yang sangat dalam. Bisa juga program yang hanya berputar semata tanpa realita. Bundar yang terus berputar, jika semakin kencang bisa dipanggil bagaikan baling-baling bambu Doremon yang terbang entah kemana, bersama Nobita, Shizuka, Giant dan Suneo.

Angin Kumbang yang menggerakan udara di lereng pegunungan Ciremai Jawa Barat, hingga deretan Gunung Kumbang Salem Brebes. Merupakan angin Fohn (Angin lokal yang bersifat jatuh), yang diyakini membawa kesejukan ekonomi masyarakat Brebes, khususnya warga Randusanga.

Angin Kumbang, sebagai penghalau rob, pembawa pergantian musim kemarau. Menjadi perubahan musim paceklik. Masyarakat pemilik tambak tertolong dari derasnya air pasang yang menggerus galengan penahan pembatas tambak. Sehingga mereka bisa panen dan menikmati keuntungan menjadi petani tambak.

Angin Kumbang yang fenomenal sebagai simbol titik balik. Jangan sampai hanya sebuah dongeng, dari para leluhur tentang kejayaan masyarakat petani tambak, yang kini tidak hanya sebuah isapan jempol yang ada di negeri awan.

Kondisi saat ini, banjir rob telah mengabrasi perekonomian masyarakat pesisir, memporak porandakan keasrian lingkungan pantai dan terputusnya dan pendangkalan sungai-sungai arus pendidikan.

Tambak-tambak milik para petani yang tergerus abrasi dan derasnya air pasang mematikan mata pencaharian utama petani. Ketika modal dan penghasilan hilang, kemampuan membiayai pendidikan anak hingga jenjang perguruan tinggi pun ikut terkikis.

Ditambah banjir rob yang tidak hanya membawa air asin, tetapi juga menyisakan gunungan sampah kiriman yang mengotori pemukiman dan merusak estetika desa yang sedang berbenah.

Tidak ketinggalan pula aturan zonasi pendaftaran siswa baru menjadi ketidakadilan geografis bagi warga Randusanga. Jarak desa yang lebih dari 5 km dari sekolah negeri terdekat (di pusat kota Brebes) membuat anak-anak pesisir secara otomatis tersisih oleh sistem komputer karena kalah jarak.

Pemerintah daerah perlu memikirkan, mendorong dan memberikan kuota khusus (jalur afirmasi bencana atau daerah pesisir/tertinggal, atau zonasi khusus) dalam sistem PPDB, agar anak-anak Randusanga tetap bisa mengakses sekolah negeri meski terbentur jarak.

Mohon doa dan permintaan untuk para pembaca ikut mengamini, semoga embusan angin kumbang tahun ini tidak hanya mengalihkan air rob di jalanan dan kampung Randusanga, tetapi juga meniupkan semangat berbenah terutama dalam dunia pendidikan yang melahirkan solusi nyata bagi Randusanga dari para pemangku kebijakan. Aamiiin.