BANDUNG (Aswajanews) – Bulan Ramadan 1447 Hijriah dimanfaatkan berbagai sekolah untuk menggelar kegiatan Pesantren Ramadan dengan tema dan konsep yang beragam.
Salah satunya dilakukan SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, yang menggelar kegiatan Pesantren Ramadan pada 10–14 Maret 2026 di Masjid Ulul Albab SMP PCI. Kegiatan tersebut mengusung tema “Mujahid dan Mujahidah Sejati, Istiqamah Beribadah, Mulia Berakhlak.”
Ada hal menarik dalam kegiatan pesantren Ramadan di sekolah ini. Setiap tahunnya, SMP PCI menghadirkan penceramah dari luar negeri. Pada tahun-tahun sebelumnya, sekolah ini pernah menghadirkan Direktur Akademi Internasional Studi Bahasa Arab dan Studi Al-Qur’an Mesir, Syaikh Dr. Ahmad Muhammad Ath-Thuki, serta Syekh Mohamed Alghouldari Al-Quds Islamiyah Palestina.
Pada Ramadan 1447 H kali ini, melalui kerja sama dengan Rumah Tahfiz Center Yayasan Al-Qur’an Lima Benua, SMP PCI menghadirkan seorang pemuda asal Gaza, Palestina, Syekh Said Amir Alramlawi (22), Imam Masjid Al-Qa’qa Gaza, dengan tema khusus “Suara dari Gaza.”
Syekh Said hadir dalam Kuliah Duha yang sekaligus menutup rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan pada Sabtu (14/3/2026).
Dalam ceramahnya, Syekh Said menceritakan perjalanan hidupnya di Gaza. Ia lahir dari keluarga berada dan tinggal di wilayah Syijaiya, Gaza bagian timur yang berbatasan langsung dengan Israel.
Said dikenal sebagai pemuda cerdas, hafidz Al-Qur’an, aktivis sosial, serta mahasiswa jurusan Akuntansi di Universitas Islam Gaza.
Namun perang mengubah kehidupannya secara drastis. Pada 25 Oktober 2023, rumah keluarganya dibom oleh zionis Israel. Dalam peristiwa itu, ia kehilangan ayah serta 25 anggota keluarganya yang gugur sebagai syahid.
Said sendiri selamat, meski sempat terjebak selama lima jam di bawah reruntuhan rumahnya.
Cobaan belum berhenti. Pada 4 Juli 2024, saat sedang melakukan kegiatan sosial membagikan makanan kepada warga Gaza, serangan Israel kembali terjadi. Serangan tersebut menghancurkan kaki kanannya hingga harus diamputasi di Mesir. Saat ini ia menggunakan kaki palsu.
Pada sesi dialog, seorang siswa SMP PCI menanyakan apa yang menjadi sumber kekuatan Syekh Said dan rakyat Gaza dalam menghadapi perang yang berkepanjangan.
Syekh Said menjawab bahwa kekuatan utama rakyat Palestina adalah Al-Qur’an.
Menurutnya, sejak kecil masyarakat Palestina dididik untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, memahami maknanya, serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Al-Qur’an adalah teman hidup dan mati kami,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa selama puluhan tahun rakyat Palestina terus menghadapi serangan Israel dan kehilangan banyak saudara yang gugur sebagai syahid. Namun mereka tetap bertahan karena berpegang teguh pada Al-Qur’an.
Karena itu, Syekh Said berpesan kepada para siswa SMP PCI agar terus belajar, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. (Red)