BANDUNG (Aswajanews) – Potret pilu kembali mencuat dari pelosok Kabupaten Bandung. Seorang warga bernama Pa Usman, yang tinggal di Kampung Cipatat RT 04 RW 10, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, harus bertahan hidup di dalam rumah yang nyaris ambruk dan mengancam keselamatan setiap saat, Minggu (03/05/2026).
Kondisi rumah yang ditempatinya sangat memprihatinkan. Dinding bangunan dipenuhi retakan, tiang penyangga mulai lapuk dimakan usia, sementara atap rumah terlihat tak lagi kokoh menopang beban. Setiap hembusan angin dan guyuran hujan menjadi ancaman nyata bagi dirinya dan keluarga.
Ironisnya, upaya untuk mendapatkan bantuan perbaikan rumah bukanlah hal baru. Pengajuan telah dilakukan sejak tahun 2024. Namun hingga kini, belum ada kejelasan maupun realisasi bantuan. Kondisi ini menimbulkan kesan adanya pembiaran dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Warga sekitar pun angkat suara. Mereka menilai respons aparat setempat terlalu lamban, bahkan terkesan tutup mata terhadap kondisi darurat yang terjadi di lingkungan mereka.
“Sudah sering diajukan, sudah disampaikan, tapi hasilnya nihil. Jangan sampai harus menunggu rumah itu benar-benar roboh dan menelan korban dulu baru ada tindakan,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Persoalan rumah tidak layak huni sejatinya bukan sekadar urusan administratif, melainkan menyangkut keselamatan jiwa. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar terkait keberpihakan terhadap masyarakat kecil.
Di tengah gencarnya program bantuan sosial dan perumahan yang digaungkan, masih adanya warga yang luput dari perhatian menjadi ironi tersendiri. Publik pun mempertanyakan di mana letak tanggung jawab moral serta fungsi pelayanan aparat terhadap rakyat.
Kini, harapan besar disematkan kepada pemerintah desa hingga instansi terkait di tingkat yang lebih tinggi untuk segera mengambil langkah nyata dan cepat.
Jangan biarkan Pa Usman terus hidup dalam bayang-bayang bencana di rumahnya sendiri. Sebab sejatinya, negara hadir untuk melindungi setiap warganya—bukan membiarkan mereka berjuang sendirian di tengah ancaman nyata.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya bangunan yang akan runtuh, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap kepedulian aparat yang ikut hancur.
(Red)