Beranda Sindikasi Pilih Menangis atau Tertawa?

Pilih Menangis atau Tertawa?

Mendampingi penyintas stroke sekaligus menjadi pendamping terapi membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Dalam proses tersebut, ada perilaku yang sering muncul dan terkadang membuat pendamping bingung: menangis dan tertawa secara tiba-tiba. Kadang terasa lucu hingga mengundang tawa, namun di lain waktu menghadirkan kesedihan yang membuat orang di sekitarnya ikut terharu.

Kedua respons emosional ini sulit diprediksi kapan akan muncul. Namun, baik tangisan maupun tawa yang berlebihan sering kali menimbulkan ketidaknyamanan, baik bagi penyintas maupun pendampingnya.

Jika harus memilih, mana yang lebih mudah dihadapi: penyintas stroke yang sering menangis atau yang sering tertawa? Tentu jawabannya berbeda-beda. Ada penyintas yang lebih sering tertawa tanpa alasan yang jelas, sementara yang lain lebih sering menangis. Bahkan, keduanya bisa terjadi secara bergantian.

Pada banyak kasus, tangisan atau tawa tersebut muncul tanpa pemicu yang nyata. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai Pseudobulbar Affect (PBA) atau inkontinensia emosional. PBA terjadi akibat kerusakan jaringan otak yang mengganggu jalur saraf pengatur emosi, sehingga respons emosional menjadi meledak-ledak dan sulit dikendalikan, meskipun tidak sesuai dengan perasaan yang sebenarnya sedang dialami.

Penyebab Tertawa dan Menangis Berlebihan

1. Pseudobulbar Affect (PBA)
Kerusakan pada area tertentu di otak mengganggu komunikasi antara lobus frontal sebagai pengendali emosi dan batang otak sebagai pemicu respons fisik. Akibatnya, penyintas dapat tertawa atau menangis secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.

2. Labilitas Emosional
Kerusakan otak juga dapat menyebabkan hilangnya kemampuan mengontrol suasana hati. Emosi menjadi sangat mudah berubah dan sering berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

3. Depresi Pasca-Stroke
Banyak penyintas mengalami depresi akibat perubahan besar dalam hidup mereka. Kehilangan kemampuan fisik, gangguan bicara, menurunnya daya ingat, atau berkurangnya kemandirian dapat menimbulkan kesedihan, frustrasi, dan rasa putus asa yang berujung pada tangisan yang lebih sering.

Keluarga dan pendamping memiliki peran penting dalam membantu penyintas menghadapi kondisi ini. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Tetap tenang dan tidak panik saat penyintas tiba-tiba menangis atau tertawa.
  • Jangan menghakimi atau menyalahkan penyintas, karena mereka tidak memiliki kendali penuh atas respons tersebut.
  • Alihkan perhatian secara perlahan ke topik atau aktivitas yang lebih ringan dan menyenangkan.
  • Ajak penyintas melakukan relaksasi dan mengatur pernapasan secara perlahan.
  • Berikan dukungan spiritual sesuai keyakinannya, misalnya dengan mengingat nama Tuhan dan Rasul-Nya.
  • Jadilah pendengar yang baik. Biarkan penyintas mengekspresikan emosinya, namun tetap diarahkan dengan lembut agar tidak berlarut-larut.

Penting untuk dipahami bahwa tangisan maupun tawa yang berlebihan pada penyintas stroke bukanlah sesuatu yang disengaja. Itu merupakan bagian dari dampak kerusakan saraf akibat stroke. Karena itu, kesabaran, empati, dan pemahaman dari keluarga menjadi obat yang sangat berharga dalam proses pemulihan mereka.

Apabila gejala semakin sering muncul dan mengganggu kualitas hidup penyintas maupun keluarganya, konsultasikan dengan dokter spesialis saraf atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Wassalam. ***