BANDUNG (Aswajanews) – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Dudu Rohman, memimpin Rapat Pembinaan Disiplin dan Kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kanwil Kemenag Jawa Barat, Jumat (17/04/2026). Kegiatan ini digelar secara daring melalui Zoom dan live streaming, diikuti jajaran pejabat hingga seluruh ASN se-Jawa Barat.
Dalam arahannya, Kakanwil menegaskan pentingnya penguatan disiplin kerja di tengah era transformasi digital. Menurutnya, pola kerja ke depan menuntut integrasi layanan berbasis digital yang harus diimbangi dengan kedisiplinan ASN dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ia menekankan bahwa layanan keagamaan, termasuk pelayanan pernikahan pada Jumat hingga Minggu, harus tetap berjalan optimal sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat.
“Disiplin digital menjadi kunci keberhasilan pola kerja baru. Layanan harus semakin adaptif dan terintegrasi dengan sistem digital,” tegasnya.
Selain itu, Kakanwil mengingatkan pentingnya evaluasi program agar tidak berhenti pada aspek administratif semata. Setiap program harus memiliki indikator yang jelas serta memberikan dampak nyata di lapangan.
Salah satu program yang disoroti adalah penguatan ekoteologi. Ia menegaskan bahwa konsep tersebut harus diwujudkan melalui aksi nyata dengan melibatkan kolaborasi antara Kemenag, madrasah, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Ekoteologi harus menjadi gerakan nyata dengan desain program, indikator masalah, serta aksi perubahan yang terukur,” ujarnya.
Kakanwil juga mendorong penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi, baik keagamaan maupun umum, guna mendukung pengembangan potensi generasi muda serta keberlanjutan pendidikan berbasis keagamaan.
Di sisi lain, inovasi program seperti pengembangan kota wakaf dan desa sadar wakaf turut menjadi perhatian untuk meningkatkan kesadaran beragama sekaligus memperkuat pemberdayaan umat.
Dalam aspek pelayanan publik, ia menekankan pentingnya sikap ramah dan humanis. ASN diminta memberikan layanan yang responsif, penuh sapa, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.
“Layanan harus menghadirkan senyum, sapa, dan semangat melayani,” tegasnya.
Kondusivitas kehidupan beragama juga menjadi perhatian utama. Ia mengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan kerukunan antarumat beragama sebagai bagian dari tanggung jawab Kementerian Agama.
Lebih lanjut, penguatan layanan di Kantor Urusan Agama (KUA) dan satuan kerja lainnya diprioritaskan, terutama di wilayah dengan kebutuhan layanan tinggi seperti Bekasi, Bogor, dan Cianjur. Setiap persoalan diminta dianalisis secara komprehensif, mulai dari akar masalah hingga solusi yang terjadwal dan terukur.
Dalam mendukung hal tersebut, Kakanwil mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, termasuk pemanfaatan aset daerah untuk kepentingan pendidikan dan keagamaan.
Ia juga mengingatkan ASN agar tidak hanya berfokus pada tugas administratif, tetapi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai bagian dari pengabdian kepada umat.
“ASN bukan hanya birokrat, tetapi juga agen kebaikan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Menutup arahannya, Kakanwil menegaskan bahwa seluruh program harus dirancang secara spesifik, realistis, dan terukur agar memberikan dampak optimal bagi masyarakat.
Melalui penguatan disiplin, transformasi digital, kolaborasi lintas sektor, dan kepedulian sosial, Kanwil Kemenag Jawa Barat berkomitmen menghadirkan layanan keagamaan yang profesional, inklusif, dan berdampak luas.
(Red)