Komando perang belum juga terdengar. Padahal ribuan santri dan kiyai dari berbagai pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa timur sudah standby di berbagai titik. Mereka telah siap dengan senjata bumbu runcing bersatu dalam laskar Hizbullah.
Sementara Bung Tomo sudah terus menerus memompa semangat mereka dengan semboyan merdeka atau mati. Padahal tentara sekutu sudah wara wiri kesana kemari sambil mempertontonkan senjata modern sebangsa mirtraliyur.
Apalagi setelah panglima perang mereka brigadir jenderal Mallaby terbunuh tanggal 30 Oktober 1945.
Tenyata KH Hasyim Asy’ari sebagai panglima perang tertinggi masih menunggu datangnya dua pasukan dari Jawa Barat yang sangat di andalkan.
Tidak lain adalah pasukan dari pondok pesantren Babakan Ciwaringin dan Buntet
Tanggal 9 Nopember sekutu mengeluarkan perintah sekaligus ancaman.
Tanggal 10 Nopember pagi hari seluruh laskar Indonesia harus meletakkan senjata dan menyerah. Jika tidak maka kota Surabaya akan di bumi hanguskan .
Ternyata perintah dan ancaman sekutu itu justru di jawab dengan sliweran bambu runcing menyerang truk truk tentara sekutu.
Rupanya komando serbu telah di keluarkan oleh KH Asyhari dan semboyan merdeka atau mati trus di suarakan oleh bung Tomo lewat radio Domei milik tentara Jepang.
Satu persatu tentara sekutu berjatuhan dari atas truck dan mati.
Siang hari itu seluruh tentara sekutu di tarik mundur dan pulang Kalkuta yang merupakan pangkalan peteng mereka.
Kemenangan laskar rakyat yang di dukung laskar kiyai dan santri mendasari keputusan presiden nomor 316 tahun 1959 tanggal 31 Desember 1959 yang menetapkan hari pahlawan Nasional 10 Nopember. Itulah kisah heroisme kiyai dan santri mempertahankan kemerdekaan republik ini. ***