Tulisan ini merupakan kisah singkat dari istriku, Widiyawati, yang terkena serangan stroke. Perjuangannya kini genap satu tahun dilaluinya (20 April 2025). Kisah ini saya (Lukman, suami) coba tuangkan dalam lembar sederhana di tangan pembaca. Semata untuk berbagi cerita, semoga ada sedikit ilmu dan manfaat yang bisa diambil.
Penyakit kadang datang secara tiba-tiba, meskipun gejalanya sudah terasa sebelumnya. Seperti sakit kepala hebat yang muncul mendadak tanpa sebab jelas, pusing, kehilangan keseimbangan, serta pandangan yang sering kabur. Namun, karena kesibukan kerja dan padatnya aktivitas, gejala tersebut kerap terabaikan. Berbeda dengan proses penyembuhan yang membutuhkan waktu panjang, terapi rutin, serta kedisiplinan dalam kontrol medis.
Stroke merupakan kondisi gawat darurat medis yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang secara tiba-tiba. Hal ini menyebabkan sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi hingga mati dalam hitungan menit. Akibatnya, bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik.
Stroke yang dialami istriku adalah jenis hemoragik, yaitu pecahnya pembuluh darah di otak sebelah kiri yang menyebabkan pendarahan. Saat itu, setelah diperiksa di rumah sakit, tekanan darahnya diketahui sangat tinggi.
Beberapa kondisi yang dialami istriku saat terkena stroke antara lain:
Pertama, kelumpuhan atau kelemahan anggota gerak.
Saat serangan terjadi, tubuhnya tiba-tiba lemas, tidak bisa bergerak, bicara tidak jelas, dan bibir terlihat sedikit mencong. Saya segera membawanya ke rumah sakit dengan bantuan tetangga. Alhamdulillah, setibanya di sana langsung ditangani dokter.
Setelah beberapa hari perawatan, ia mulai dilatih memiringkan badan, duduk, dan terus dipantau tekanan darahnya. Kelumpuhan tidak terjadi pada seluruh tubuh, melainkan pada tangan dan kaki kanan. Ia masih bisa belajar makan sendiri menggunakan tangan kiri.
Awalnya, setiap gerakan terasa sangat sakit. Namun, latihan harus terus dilakukan agar otot tidak kaku atau mengecil. Kondisi kekakuan (spastik) ini terjadi karena gangguan sinyal antara otak dan otot, sehingga otot terus berkontraksi dan sulit digerakkan.
Kedua, gangguan bicara.
Ucapan yang keluar sering tidak jelas. Kalimat yang paling sering diucapkan saat itu adalah, “Aku ingin pulang.” Ia juga sering kesulitan menyampaikan maksud, bahkan cenderung menggunakan kata “itu” untuk banyak hal.
Untuk melatih kemampuan bicara, ia rutin membaca buku anak-anak dengan gambar besar dan kata sederhana. Selain itu, membaca Al-Qur’an, melantunkan sholawat, serta latihan meniup balon menjadi bagian dari terapi harian untuk melatih otot mulut dan pernapasan.
Ketiga, gangguan kognitif.
Daya ingat dan konsentrasi menurun. Hal sederhana seperti mengingat huruf, jadwal, atau menyampaikan keinginan menjadi sulit. Pernah suatu hari ia meminta jeruk, tetapi menyebutnya “takmir masjid.” Hal ini sempat membingungkan keluarga.
Kejadian lain yang tak terlupakan, saat ia terus mengatakan “Aku ingin pulang” sambil memegang rambutnya. Ternyata, maksudnya adalah ingin memotong rambut. Setelah dipahami, suasana yang tadinya tegang berubah menjadi lega dan penuh haru.
Keempat, perubahan emosi.
Sebelum sakit, istriku dikenal tegar dan tidak mudah menangis. Namun setelah stroke, ia sering menangis tanpa sebab yang jelas. Anak-anak pun sampai berkata, “Ibu sekarang seperti anak kecil.”
Alhamdulillah, setelah satu tahun perjuangan, banyak perubahan yang terjadi. Ia sudah bisa berjalan ke kamar mandi sendiri, tidak mudah menangis, bisa dibonceng motor, menyapu meski sedikit-sedikit, bercerita, mengaji, serta mengingat kembali niat sholat dan doa-doa untuk anak-anaknya.
Ikhlas dan ridha menerima penyakit menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan. Emosi yang semakin stabil serta tekanan darah yang kembali normal menjadi tanda kemajuan yang luar biasa. Dukungan keluarga yang selalu mendampingi juga menjadi sumber semangat untuk terus bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik.
Sehat selalu istriku. Aamiin.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendoakan proses kesembuhan istriku.
Jazakumullah ahsanal jaza.