Beranda Sindikasi Bencana Cisarua: Menag Pastikan Pemulasaran Syariat dan Bantuan Nyata untuk Korban

Bencana Cisarua: Menag Pastikan Pemulasaran Syariat dan Bantuan Nyata untuk Korban

KBB (Aswajanews) – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan kehadiran negara secara nyata dalam penanganan bencana longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kehadiran tersebut diwujudkan mulai dari proses pemulasaran jenazah hingga pendampingan menyeluruh terhadap keluarga korban.

Penegasan itu disampaikan Menag saat meninjau langsung lokasi bencana dan posko penanganan bersama Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, Minggu (1/2/2026).

Dalam kunjungannya, Menag memberikan penguatan spiritual kepada keluarga terdampak agar tetap tegar menghadapi musibah. Ia menekankan bahwa bencana merupakan bagian dari takdir Allah SWT dan setiap ikhtiar kemanusiaan yang dilakukan tidaklah sia-sia.

“Pastikan insyaallah tidak ada yang sia-sia dari apa pun yang kita lakukan di tempat ini. Semua ini adalah takdir, garis tangan, yang telah tercatat di sisi Allah,” ujar Menag.

Menag juga menjelaskan bahwa korban yang wafat akibat bencana termasuk dalam golongan syuhada, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW.

“Syahid bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang wafat karena tertimbun longsor, tenggelam, penyakit menular, atau sakit yang berkepanjangan,” jelasnya.

Terkait penanganan jenazah, Menag menekankan pentingnya pemulasaran sesuai ketentuan syariat Islam sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada para korban. Ia memastikan Posko Kementerian Agama yang berdampingan dengan Tim DVI berperan aktif dalam proses tersebut.

“Pemulasaran harus dilakukan dengan benar, hati-hati, dan sesuai syariat. Itu adalah amanah kemanusiaan,” tegasnya.

Selain pemulasaran, Kementerian Agama juga memastikan pendampingan berkelanjutan bagi keluarga korban. Menag menegaskan bahwa anak-anak dan anggota keluarga yang ditinggalkan tidak akan dibiarkan menghadapi musibah seorang diri.

“Kami akan terus mendampingi. Bapak dan ibu semua adalah bagian dari kami, dan negara tidak akan meninggalkan,” ujarnya.

Sebagai wujud nyata kehadiran negara, Kementerian Agama menyalurkan bantuan sewa rumah bagi 21 guru madrasah terdampak dengan total nilai Rp126 juta, guna menjamin tempat tinggal sementara yang layak selama masa pemulihan.

Selain itu, Kemenag juga memberikan santunan kepada keluarga 10 siswa madrasah yang wafat akibat banjir dan longsor dengan total bantuan sebesar Rp160 juta. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga korban.

Dalam penanganan darurat, Kemenag turut menyalurkan bantuan pemulasaran jenazah sebesar Rp10 juta. Menag menegaskan bahwa pemulasaran yang layak merupakan bagian penting dari penghormatan terhadap korban dan tanggung jawab kemanusiaan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Dudu Rohman, yang turut mendampingi Menag, menyampaikan bahwa jajaran Kemenag Jabar terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan tim gabungan.

“Kami memastikan pelayanan keagamaan, pendampingan keluarga, serta penyaluran bantuan berjalan seiring dan tepat sasaran bagi masyarakat terdampak,” ujar Dudu.

Menag juga menegaskan bahwa seluruh bantuan dan pendampingan diberikan tanpa membedakan latar belakang agama, karena seluruh korban merupakan saudara sebangsa dan setanah air dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia mengajak seluruh pihak untuk memperbanyak doa dan memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

(Kontributor: Ani Dwi Utami)