BREBES (Aswajanews.id) – Nama Drs. Syaifulloh menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah berdirinya MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Beliau dipercaya sebagai kepala madrasah pertama sejak lembaga tersebut didirikan pada Juni 2005 oleh Ketua Yayasan Al Masykuriyyah, H. Solehudin.
Mengemban amanah sebagai kepala madrasah pertama bukanlah tugas yang ringan. Di masa-masa awal berdiri, Drs. Syaifulloh harus berjuang mencari peserta didik, membangun kepercayaan masyarakat, melengkapi sarana dan prasarana, hingga memastikan madrasah memiliki legalitas resmi. Semua perjuangan itu dijalani dengan penuh kesabaran, kerja keras, dan keikhlasan.
Proses berdirinya MI Sirojut Tholibin berawal dari gagasan almarhum Soedarjo HS, Pengawas RA/MI/Madin wilayah Kecamatan Larangan pada tahun 2005. Bersama Akhmad Sururi, beliau turut mendampingi proses administrasi pengajuan pendirian madrasah ke Departemen Agama Kabupaten Brebes, yang kini menjadi Kementerian Agama.
Dalam mengurus izin operasional, Syaifulloh harus berulang kali mendatangi kantor Departemen Agama. Berkat kegigihan dan ketekunannya, akhirnya MI Sirojut Tholibin memperoleh Surat Keputusan Izin Operasional (IJOP) dan Piagam Pendirian yang saat itu diserahkan oleh Hj. Khulasoh selaku Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Departemen Agama Kabupaten Brebes.
Drs. Syaifulloh lahir di Desa Rengaspendawa pada 27 Maret 1966 dari pasangan H. Nur Kholid dan Hj. Rohani, keluarga besar pendiri Yayasan Al Masykuriyyah. Sejak awal berdirinya madrasah, beliau banyak berkorban demi keberlangsungan pendidikan. Selama hampir dua tahun pertama, MI Sirojut Tholibin belum menerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sehingga kebutuhan operasional ditanggung melalui swadaya dan pengorbanan para pengurus, termasuk dirinya.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD di Rengaspendawa, kemudian melanjutkan ke MTs As Salafiyah Sitanggal, Kecamatan Larangan. Setelah itu, beliau menempuh pendidikan di MAN Buntet sambil mondok di Pondok Pesantren Buntet di bawah asuhan KH. Nasir. Pada tahun 1986, Syaifulloh melanjutkan studi di STAIN Sunan Gunung Jati Cirebon, yang kini menjadi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Setelah menyelesaikan pendidikan pada tahun 1992, beliau sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di beberapa sekolah.
Jauh sebelum bekerja di Korea Selatan, Syaifulloh telah ikut merintis berdirinya Madrasah Diniyah Sirojut Tholibin sejak tahun 1986. Kegiatan belajar mengajar saat itu berlangsung secara sederhana di rumah H. Solehudin, H. Zarkasih (almarhum), dan H. Nur Kholid (almarhum). Setelah menikah dan memiliki seorang anak, beliau berangkat ke Korea Selatan untuk bekerja. Namun, sepulang dari luar negeri, jiwa pendidiknya tetap melekat. Saat Madrasah Diniyah bangkit kembali pada tahun 2002, beliau kembali mengabdikan diri sebagai pengajar. Selain itu, ia juga pernah menjadi guru di MA As Syamsuriyyah Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.
Selama kurang lebih lima tahun memimpin MI Sirojut Tholibin, Drs. Syaifulloh berhasil meletakkan pondasi penting bagi perkembangan madrasah. Pada tahun 2009, di bawah kepemimpinannya berhasil dibangun tiga ruang kelas permanen sebagai gedung pertama MI Sirojut Tholibin.
Ketika dipercaya menjadi perangkat Desa Rengaspendawa, bahkan sempat menjabat sebagai Penjabat Kepala Desa, beliau kemudian menyerahkan estafet kepemimpinan MI Sirojut Tholibin kepada Akhmad Sururi agar dapat lebih fokus menjalankan amanah di pemerintahan desa. Meski demikian, kecintaannya terhadap dunia pendidikan tidak pernah luntur. Sebagai pimpinan Yayasan Al Masykuriyyah, beliau terus memberikan perhatian, pemikiran, dan dukungan terhadap kemajuan MI maupun Madrasah Diniyah Sirojut Tholibin.
Memasuki tahun 2026, Drs. Syaifulloh telah memasuki masa purnatugas sebagai perangkat desa. Aktivitas sehari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama keluarga dan mengasuh cucu. Namun, semangat pengabdiannya terhadap dunia pendidikan tetap menyala. Beliau masih aktif membantu penataan lingkungan madrasah serta memberikan masukan demi kemajuan MI Sirojut Tholibin.
Salah satu pesan yang kerap beliau sampaikan kepada para guru menjadi warisan nilai yang terus dikenang, “Kemajuan dan kualitas pendidikan akan terwujud apabila semua guru menjalankan amanah mendidik dengan tulus dan ikhlas.”
Perjalanan hidup Drs. Syaifulloh menjadi bukti bahwa kemajuan sebuah lembaga pendidikan tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, dan komitmen yang panjang. Dedikasinya telah menjadi fondasi penting bagi tumbuh dan berkembangnya MI Sirojut Tholibin hingga menjadi lembaga pendidikan yang terus berkhidmat mencerdaskan generasi bangsa. (*)