Otak saya seolah tak pernah bisa melepaskan ingatan tentang singkong. Dulu, sejak kecil hingga dewasa, sampeu—begitu orang Sunda menyebutnya—merupakan makanan pokok kedua setelah beras atau nasi.
Tanaman berbiji dua (dikotil) yang memiliki nama ilmiah Manihot esculenta ini begitu akrab dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Almarhumah emak saya, Hj. Enah Sukaesih, termasuk sosok ibu rumah tangga yang kreatif dalam mengolah singkong menjadi beragam jenis makanan untuk konsumsi keluarga.
Daunnya diolah menjadi urab atau lalapan dengan sambal kelapa parut yang gurih. Umbinya bisa direbus, dibakar, digoreng, bahkan dibuat kolak singkong yang rasanya sungguh nikmat.
Pada masa itu, di wilayah Tasikmalaya Selatan, hampir setiap keluarga menanam singkong. Tidak ada lahan yang dibiarkan kosong. Halaman rumah, kebun, hingga pinggir jalan ditanami sampeu.
Selain menjadi sumber pangan, singkong juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Saat itu berdiri banyak pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka. Para petani menjual hasil panennya ke pabrik-pabrik tersebut untuk diolah melalui proses fermentasi menjadi aci atau tapioka. Dalam bahasa Jawa dikenal sebagai tepung kanji, sedangkan orang Sunda menyebutnya tepung aci.
Di Tasikmalaya kala itu dikenal seorang pengusaha besar bernama Lie Eng Sun, atau yang lebih populer dipanggil Bah Engsun. Ia mengekspor langsung hasil produksi tapioka dari Tasikmalaya ke Korea Selatan.
Namun roda kehidupan selalu berputar. Ketika petani di berbagai daerah tergiur oleh keberhasilan budidaya cengkeh, terutama setelah Indonesia menjadi salah satu produsen cengkeh terbesar dunia, para petani singkong di Tasikmalaya Selatan ikut-ikutan menanam cengkeh. Dalam istilah Sunda, tuturut munding.
Lahan-lahan singkong pun beralih menjadi kebun cengkeh. Sayangnya, ketika masa panen tiba, harga cengkeh justru anjlok. Kekecewaan petani begitu besar. Banyak pohon cengkeh ditebang, bahkan dibakar.
Saat para petani hendak kembali menanam singkong, keadaan sudah berubah. Pabrik-pabrik tapioka yang dahulu menjadi penopang ekonomi rakyat satu per satu tutup karena kekurangan bahan baku. Singkong yang pernah berjaya perlahan kehilangan tempatnya.
Itulah salah satu kisah yang menandai berakhirnya kejayaan singkong di Tasikmalaya Selatan. Urab daun singkong, singkong rebus, singkong goreng, hingga kolak singkong yang dahulu begitu akrab di meja makan keluarga, kini semakin jarang ditemui.
Apalagi emak juga sudah tiada.
Kini, Manihot esculenta alias singkong, lebih banyak hidup dalam ingatan. Ia bukan lagi sekadar tanaman pangan, melainkan bagian dari kenangan masa lalu yang sulit tergantikan.
Singkong kini tinggal kenangan.