Bagi penyintas stroke, awal bisa duduk, berdiri tegak dan berjalan, merupakan perjuangan yang sangat luar biasa. Penuh kesedihan, tangisan dan kadangpula kemarahan. Keberhasilan hingga dapat berjalan tidak bisa lepas dari pengorbanan berbagai pihak dan kerja sama yang baik antara penyintas, dokter, terapis dan pihak keluarga.
Saat stroke menyerang seseorang, tentu akan berdampak pada berbagai macam gangguan. Baik gangguan saraf, spikologis maupun pisik. Sehingga dalam penanganyapun memyeluruh. Tidak hanya saraf dan psikologis semata, namun fisik yang paling utama untuk meringankan penyintas dan keluarga.
Terapi pisik bagi penyintas stroke, menjadi terapi yang pertama dan utama, terutama agar bisa duduk kembali dengan normal, yang sebelumnya dalam beberapa hari hanya bisa berbaring ditempat tidur. Baik untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum ataupun buang hajat.
Perubahan menjadi bisa duduk yang seimbang dan tanpa sandaran, setelah dianggap cukup kuat, Selanjutnya berlatih duduk dan berdiri, kemudian meningkat latihan berjalan.
Dalam setiap perubahan fisik pada penyintas stroke saat terapi, memakan waktu durasi yang berbeda-beda. Ada yang cepat ada pula yang lambat. Namun semua usaha harus tetap dijalaninya. Sabar dan usaha menjadi komitmen yang harus dibangun, disertai nilai-nilai tawakkal menjadi jalan yang harus di lampauinya.
Latihan fisik dapat dikatakan sangat penting untuk mencegah kekakuan sendi (kontraktur) dan mengembalikan koneksi saraf otak. Jika penyintas stroke belum bisa bergerak sendiri, maka setiap gerakan harus dibantu, kemudian dilanjutkan latihan secara mandiri disaat kekuatan ataupun gerakan mulai muncul kembali.
Semisal saat belajar duduk di kasur, lakukan latihan keseimbangan saat duduk tanpa sandaran.
Saat latihan duduk terlihat ada perubahan dan bisa duduk dengan nyaman. Maka dapat dilanjut dengan latihan tangan dan lengan. Mulai gerakan menarik bahu ketas dan kebawah, menekuk dan meluruskan siku, memutar pergelangan tangan, dan mengepal serta membuka jari-jari, latihan ini bisa dengan duduk santai dan nyaman. Adapun yang didapatkan latihan rotasi pergelangan tangan dan kaki dapat mencegah sendi kaku, menjaga kelenturan otot, serta memperlancar aliran darah ke ujung-ujung tubuh. Latihan ini juga membantu mengurangi pembengkakan yang kerap terjadi pada penyintas stroke.
Mengangkat bahu bertujuan meningkatkan fleksibilitas serta memperkuat otot bahu. Gerakannya dimulai mengangkat bahu ke arah telinga, tahan beberapa detik, kemudian turunkan perlahan. Saat mengangkat bahu, dapat dilanjutkan dengan mengangkat lengan lurus ke depan, ke samping, atau di atas kepala. Untuk sisi tubuh yang lebih lemah, gunakan tangan sehat untuk membantu mengangkat atau menopang gerakan. Lakukan secara perlahan dan perhatikan batas kenyamanan tubuh agar gerakan terapi stroke ini tidak memicu nyeri.
Setelah otot terlihat memiliki kekuatan, penyintas dilatih untuk melawan gravitasi agar terbiasa berdiri tegak. Seperti duduk ke berdiri dan sebaliknya. Latihan bangun dari kursi dengan bantuan pegangan atau penyangga. Hal ini dilakukan guna menguatkan otot paha, bokong, dan punggung bawah, sekaligus meningkatkan keseimbangan tubuh.
Sebaiknya dalam setiap pergerakan tercatat dengan baik. Contoh, tahan posisi berdiri beberapa detik, kemudian duduk kembali secara perlahan. Ulangi gerakan ini 5–10 kali. Latihan ini dapat dijadikan sebagai persiapan tubuh agar dapat kembali bergerak normal dan mandiri, termasuk untuk beranjak dari kursi ke tempat tidur atau sebaliknya.
Latihan selanjutnya keseimbangan berdiri dan berjalan. Tahap ini berguna untuk mengembalikan kemandirian fungsional.
Latihan ini, bisa dimulai berdiri dengan satu kaki. Melatih tumpuan berat badan (biasanya dapat dimulai dengan berpegangan pada dinding atau meja). Melangkah ke Samping (Side Stepping). Berjalan secara menyamping untuk melatih koordinasi dan mencegah jalan miring.
Latihan berjalan dapat pula dimulai dengan alat bantu. Seperti tongkat atau walker sangat dianjurkan. Pegang alat bantu dengan benar, lalu langkahkan kaki secara perlahan-lahan sambil tetap menjaga postur tubuh tetap tegak.
Ingat. Fokuskan pada gerakan mengangkat dan menapakkan kaki secara bergantian. Jika perlu, latihlah di koridor rumah dengan area yang rata, serta pastikan ada pendamping yang siap membantu untuk menjaga keselamatan. Latihan ini bertujuan memulihkan kembali daya tahan dan kordinasi kaki agar kemampuan berjalan kembali stabil dan risiko jatuh dapat diminimalkan.
Adapun agar proses terapi berjalan aman dan efektif. Lakukan gerakan terapi dengan perlahan dan bertahap, jangan memaksakan kemampuan tubuh. Pastikan alas latihan tidak licin untuk mencegah terjatuh. Adanya pendamping. Dan segera hentikan latihan jika mengalami nyeri hebat, sesak, atau keluhan tidak biasa.
Secara sederhana manfaat gerak ataupun terapi fisik, tidak hanya dirasakan pada fisik, tetapi juga dirasakan oleh mental dan emosional. Penyintas stroke semakin percaya diri dalam pemulihan dan keseimbangan tubuh tetap terjaga.
Sebagai catatat terapi yang harus diperhatikan, konsistensi waktu, durasi dan jumlah gerakan. Hindari memaksakan latihan berat dalam satu waktu. Atau hentikan latihan jika penyintas merasa pusing, nyeri hebat, atau sesak napas. Catat dan pantau progres pemulihan dan keamanan.
Artinya gerakan terapi fisik bagi penyintas stroke yang dilakukan secara rutin dan tepat, peluang pemulihan dan kembalinya fungsi tubuh menjadi semakin besar. Aamiin. ***