Bagi penyintas stroke terapi merupakan makanan wajib yang harus dijani setiap hari. Walaupun terkadang terapi tersebut terasa sakit, lelah dan membosankan. Saat sedang terapipun terkadang masih marah, nangis bahkan benci, bercampur aduk kondisi psikologiya, penuh warna warni. Namun semua itu harus tetap dijalani, selagi anggota tubuh masih bisa digerakkan dan semangat berkeinginan untuk sembuh kembali sehat seperti semula. Maka terapi menjadi rutinitas yang tidak boleh berhenti ataupun ditinggalkan.
Bila ada kata menyerah dan berhenti untuk berlatih maupun bergerak saat melawan sakit, bukan kesembuhan yang akan didapat, melainkan semakin jauh anggota tubuh akan sulit digerakan.
Anggota tubuh kaku, lemas dan sakit merupakan hal yang biasa dialami dan wajar bagi penyintas stroke. Baik ketika ingin menggerakan salah satu atau bahkan seluruh anggota tubuh.
Berlatih ataupun menerapi diri, sebaiknya dibuat menyenangkan dengan harapan kesembuhan yang didapat dan bisa kembali beraktifitas secara normal seperti semula, tanpa harus selalu dibantu oleh orang lain. Jangan terjadi terapi sebagai sesuatu yang penuh terpaksaan atau emosional, bahkan tangisan yang akan membuat ketidaknyamanan, hingga sampai berhenti untuk terapi. Inilah logika maupun perasaan yang harus segera dibuang.
Ada satu bentuk yang sekarang dilakukan oleh istri penulis sebagai penyintas stroke dalam rangka menghibur diri, disamping tetap rutin latihan fisik maupun berbicara dan berwisata di pantai, belajar menulis ia pun lakukan untuk mengingat dan menghibur diri. Mengenang orang-orang terdekat, aktifitas dan kebutuhan keseharian serta benda-benda yang ada di dalam dan sekeliling rumah.
Menulis dapat menjadi terapi neuroplastisitas yang sangat ampuh. Melatih kembali sisi motorik halus, merangsang pemulihan fungsi kognitif dan bahasa (terutama bagi penderita afasia), serta menjadi media yang efektif untuk menyalurkan emosi agar terhindar dari stress dan kecemasan pasca-stroke. Ditambah istri sendiri sudah terbiasa menulis
semasa kondisi badan sehat dan normal, baik di tingkat desa maupun kabupaten.
Tidak ketinggalan pula keaktifan menulis secara langsung dalam catatan kegiatan di buku notulen rapat harian maupun di media elektronik, menambah semangat untuk kembali bisa menulis dan berbagi motivasi maupun kenangan dalam aktifitas kesehariannya serta dapat menjadi latihan motorik untuk merangsang pembentukan koneksi saraf baru di otak.
Menulis dapat diartikan sebagai bentuk wujud dari ungkapan hati yang paling dalam. Melihat perasaan yang sedang terjadi, kesenangan ataupun apa-apa yang dicintai dan yang selalu diingat disetiap waktu. Melihat dari apa yang ditulis dapat menggambarkan isi hati sang penulis itu sendiri. Bila penyintas stroke merasa senang dalam aktifitas menulis. Hal ini dapat dikatakan bagian dari sisi sembuh.
Saat memulai menulis tidak harus dengan kalimat yang berat atau susah. Sederhana saja namun sangat disukainya, senang dan bahagia. Bila bagian tangan yang sehat sebelumnya digunakan menulis belum bisa digerakan, untuk sementara menggunakan tangan satunya yang masih normal. Walaupun hasil tulisannya dapat dikatakan kurang baik. Selanjutnya amati dan bedakan dalam setiap harinya, perubahan-perubahan dari hasil menulisnya, sebagai bentuk perhatian yang diberikan untuk tetap menyemangati dalam setiap terapi yang dilakukannya.
Secara sederhana tujuan dari berlatih menulis merupakan bagaian rehabilitasi motorik halus, mengembalikan kekuatan genggaman, kelenturan jari, dan koordinasi tangan-mata melalui gerakan memegang pena.
Kedua, sebagai rehabilitasi kognitif dan bahasa. Aktifitas menulis didalamnya melatih otak untuk mengingat kembali memori, kosakata, menyusun kalimat, dan memahami ejaan yang mungkin terganggu akibat stroke. Menulis memiliki makna mempertajam daya ingat. Secara sadar tangan secara rutin memaksa otak untuk memproses informasi dan mempertahankan memori, sehingga mencegah penurunan fungsi kognitif.
Ketiga mengatasi afasia, menulis melatih tangan yang tidak dominan dapat merangsang otak dan membantu beradaptasi serta menyusun kembali jaringannya setelah terkena stroke. Membangun jalur saraf baru (neuroplastisitas) mendukung pemulihan otak agar dapat berkomunikasi dan mengekspresikan diri secara tertulis, terutama saat berbicara masih terasa sulit atau mengekspresikan diri.
Keempat, pelepas stress (Terapi Emosional). Menulis menjadi media sangat luar biasa untuk mengekspresikan emosi dan memantau perkembangan penyembuhan. Dalam menulis secara tidak langsung sebagai media menuangkan perasaan, ketakutan, ataupun harapan membantu menurunkan tingkat kecemasan, mengelola depresi, dan memberi rasa tenang.
Kelima, membangun rasa percaya diri. Menyelesaikan tulisan yang sederhana, seperti menulis orang-orang yang dicintainya, ataupun catatan sederhana keinginan yang ada dalam dirinya, sehingga memberikan rasa bahagia, atas pencapaian yang dilakukannya.
Adapun teknik sederhana belajar menulis, dimulai dari yang paling dasar, perhurup ataupun perkata, jangan langsung menulis kalimat yang panjang. Latihlah tangan untuk membuat garis, lingkaran, atau coretan bebas apapun agar otot terbiasa bergerak.
Boleh juga menggunakan buku garis atau pola ataupun titik-titik, sebagai pola untuk membantu melatih kerapian dan arah tulisan.
Sebagai catatat yang harus diingat, dalam belajar menulis, diharapkan bagi penyintas stroke dilakukan secara konsisten dan durasinya semakin meningkat dalam keseharianya. Kalau awal menulis 5 -7 menit maka hari selanjutnya lebih dari 5 menit. Pengulangan menulis dan konsisten merupakan salah satu kunci pemulihan koneksi saraf dan tetap menjaga istirahat yang cukup agar tangan bisa rilek dan tidak kecapain. ***
*Lukman Nur Hakim, Terapis Pembantu Penyintas Stroke Keluarga
Tinggal di Randusanga Brebes