Beranda Sindikasi Sempat Terabaikan, Rumah Usman di Margaasih Kini Mulai Diperbaiki

Sempat Terabaikan, Rumah Usman di Margaasih Kini Mulai Diperbaiki

BANDUNG (Aswajanews) – Setelah melewati penantian panjang yang penuh ketidakpastian, rumah milik Pa Usman, warga Kampung Cipatat RT 04 RW 10, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, akhirnya mulai diperbaiki melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Selasa (05/05/2026).

Perbaikan tersebut menjadi titik terang di tengah kondisi yang sebelumnya sangat memprihatinkan dan nyaris luput dari perhatian. Selama bertahun-tahun, Pa Usman bersama keluarganya harus bertahan di rumah dengan kondisi yang tidak layak huni.

Atap yang rapuh, dinding yang mulai lapuk, serta struktur bangunan yang mengancam keselamatan menjadi realitas sehari-hari yang harus dihadapi. Situasi ini semakin memprihatinkan karena pengajuan bantuan yang telah dilakukan sejak tahun 2024 tak kunjung mendapatkan kepastian.

Lambannya proses tersebut sempat memicu perhatian warga sekitar. Sejumlah warga mempertanyakan mengapa bantuan yang seharusnya menyasar masyarakat paling membutuhkan justru terkesan berjalan di tempat.

Di tengah gencarnya berbagai program bantuan sosial yang digaungkan, kondisi di lapangan menunjukkan masih adanya warga yang harus menunggu cukup lama untuk memperoleh haknya.

Kini, setelah melalui proses yang panjang, perbaikan rumah Pa Usman akhirnya terealisasi. Meski patut disyukuri, hal ini sekaligus menjadi catatan penting bagi pemerintah desa dan pihak terkait agar ke depan lebih sigap, responsif, dan tepat sasaran dalam menindaklanjuti pengajuan warga.

Program Rutilahu sejatinya merupakan salah satu solusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, implementasinya di lapangan perlu pengawasan serius agar tidak terhambat oleh birokrasi yang berbelit maupun kurangnya koordinasi antar pihak.

Pa Usman pun tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mewujudkan perbaikan rumahnya.

Bagi dirinya, bantuan tersebut bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan harapan baru untuk menjalani kehidupan yang lebih aman dan layak bersama keluarga.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap program pemerintah, terdapat harapan besar masyarakat yang menanti untuk diwujudkan. Ketika respons terlambat, bukan hanya bangunan yang nyaris runtuh, tetapi juga kepercayaan publik yang perlahan dapat ikut goyah.

(Red/Gum)