Beranda Sindikasi Hampir Punah, Tari Koncong Dayak Diangkat Jadi Game Edukatif

Hampir Punah, Tari Koncong Dayak Diangkat Jadi Game Edukatif

SINGKAWANG (Aswajanews) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, upaya pelestarian budaya lokal kini menemukan pendekatan baru melalui media interaktif berbasis pendidikan. Salah satunya dilakukan melalui pengembangan game edukatif yang mengangkat Tari Koncong Dayak Salako.

Tiga peneliti, yakni Dr. Herwulan Irine Purnama, M.Pd, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd, dan Dr. Rois Saifuddin Zuhri, M.Pd, mengembangkan game bertajuk Game Edukatif Tari Bermuatan Seni Koncong Dayak (GARISKOYAK) sebagai media pelestarian budaya bagi generasi muda.

Pengembangan game ini mendapat dukungan dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program penciptaan karya kreatif inovatif tahun 2026.

Ketua tim peneliti, Dr. Herwulan, menjelaskan bahwa Gariskoyak bukan sekadar digitalisasi tarian ke dalam bentuk permainan, melainkan juga upaya menggali nilai filosofis, historis, dan kearifan lokal yang terkandung dalam Tari Koncong Dayak.

“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata,” ujarnya, mengutip semboyan khas Dayak yang sarat makna keadilan, kehidupan, dan spiritualitas.

Ia menegaskan pentingnya menjaga batasan budaya dalam proses digitalisasi agar keaslian nilai tetap terjaga meskipun dikemas dalam teknologi modern.

Pengembangan Gariskoyak diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pemetaan Kebutuhan Budaya, Analisis Masalah, dan Content Mapping” yang digelar di Singkawang, Sabtu (4/4/2026).

Dalam prosesnya, tim peneliti menitikberatkan pada empat aspek utama, yaitu:

  1. Gameplay yang menarik bagi anak-anak
  2. Narasi yang memuat nilai luhur budaya Dayak Salako
  3. Karakter yang merepresentasikan identitas budaya secara akurat
  4. Misi berbasis kearifan lokal

Tak hanya berhenti pada tahap pengembangan, game ini juga akan diuji coba di dua sekolah dasar untuk mengukur efektivitasnya sebagai media pembelajaran.

Kolaborasi dalam proyek ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari seniman, tokoh adat, hingga akademisi. Di antaranya Ketua Sanggar Mancar, Kapalo Binuo Garantunk Sakawokng, serta maestro Tari Koncong Dayak.

2D70C1EA 4ACA 45B7 BE6C EB1958EFC4EB

Sementara itu, Dr. Hamidulloh Ibda menjelaskan bahwa pengembangan game menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation).

“Metode ini memungkinkan proses yang sistematis, kolaboratif, dan terukur dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” jelasnya.

Game Gariskoyak ditujukan untuk siswa SD kelas 4–6, namun juga dapat digunakan oleh siswa SMP kelas awal.

Adapun luaran yang ditargetkan meliputi prototipe game, panduan penggunaan, laporan evaluasi, hak cipta, publikasi ilmiah, hingga buku edukasi berbasis budaya lokal.

Rois Saifuddin Zuhri menambahkan, secara teknis game ini akan dilengkapi animasi interaktif yang mampu membacakan teks serta menyesuaikan materi dengan kebutuhan pembelajaran.

Diharapkan, Gariskoyak dapat menjadi model inovatif dalam pelestarian budaya lokal yang tidak hanya edukatif, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman.

(Khairul Anwar)