Beranda Sindikasi Iuran Rp200 Ribu dan Dugaan Intimidasi, Halalbihalal IGRA Bandung Disorot

Iuran Rp200 Ribu dan Dugaan Intimidasi, Halalbihalal IGRA Bandung Disorot

LBANDUNG (Aswajanews.id) – Kegiatan Halalbihalal yang diikuti sekitar 900 kepala dan guru Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Bandung kini menuai sorotan serius. Selain adanya iuran Rp200.000 per peserta, muncul dugaan intimidasi terhadap lembaga yang tidak ikut serta.

Kegiatan yang digelar Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PD IGRA) bersama Kelompok Kerja RA (KKRA) itu berlangsung di Dome Balerame Soreang, Kamis (2/4/2026).

Acara tersebut diisi silaturahmi pasca Idulfitri dan pelatihan Kaulinan Barudak sebagai upaya pelestarian permainan tradisional Sunda.
Namun di balik kegiatan tersebut, sejumlah kepala RA mengaku adanya iuran Rp200.000 yang disampaikan melalui komunikasi internal. Jika seluruh peserta membayar, dana yang terkumpul diperkirakan mencapai sekitar Rp180 juta.

Tak hanya itu, dugaan tekanan juga mencuat. Salah satu kepala RA yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan adanya ancaman tidak diperbolehkan mengikuti Ajang Kreativitas Seni dan Olahraga Anak RA (Aksera) bagi lembaga yang tidak mengikuti kegiatan.
“Kalau tidak ikut, tidak boleh ikut Aksera,” ungkapnya.

Isu ini memicu pertanyaan terkait transparansi dan mekanisme pembiayaan kegiatan, terutama karena Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) RA sejatinya difokuskan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Ketua PD IGRA Kabupaten Bandung, Hj. Ahadiyati Emila, S.Ag., membantah adanya unsur paksaan. Ia menegaskan kegiatan tersebut merupakan hasil kesepakatan dalam rapat kerja organisasi dan dibiayai secara swadaya.

“Kegiatan ini sudah disepakati dalam raker IGRA dengan dana swadaya,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Jumat (3/4/2026) dini hari.
Ia juga menekankan tidak ada kewajiban bagi seluruh guru RA untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Tidak ada penekanan untuk wajib diikuti seluruh guru RA,” tegasnya.

Sementara itu, pihak Kementerian Agama Kabupaten Bandung disebut hanya diundang untuk memberikan arahan dan membuka acara. Hingga berita ini ditulis, konfirmasi resmi dari Kemenag Kabupaten Bandung terkait dugaan intimidasi tersebut masih terus diupayakan.
(Uus/Nas)