Beranda Nusantara Menjadi Warga NU di Era Global: Antara Tradisi, Kemajuan, dan Tanggungjawab Keumatan

Menjadi Warga NU di Era Global: Antara Tradisi, Kemajuan, dan Tanggungjawab Keumatan

Menjadi warga Nahdlatul Ulama (NU) hari ini bukan sekadar identitas kultural atau pilihan organisasi. Di tengah arus globalisasi, disrupsi digital, dan pertarungan ideologi lintas negara, ber-NU justru merupakan sikap ideologis dan kultural yang menentukan arah masa depan Islam Indonesia. NU tidak hanya mewarisi tradisi, tetapi juga memikul tanggung jawab sejarah untuk menjaga Islam tetap berwajah ramah, beradab, dan relevan dengan zaman.

Globalisasi memang membawa banyak kemudahan, tetapi juga tantangan serius bagi umat Islam. Informasi keagamaan kini tidak lagi bersumber utama dari kiai dan pesantren, melainkan dari algoritma media sosial. Siapa pun dapat berbicara atas nama Islam, meskipun tanpa sanad keilmuan dan adab. Dalam situasi seperti ini, warga NU memegang peran penting sebagai penjaga otoritas keagamaan yang berakar pada tradisi keilmuan yang sahih dan bertanggung jawab.

Tradisi NU bukan sekadar ritual, melainkan sistem nilai. Tahlilan, maulidan, ziarah, dan pengajian kitab kuning bukanlah praktik nostalgia, melainkan sarana membangun kesinambungan spiritual dan sosial. Di balik amalan-amalan itu tersimpan ajaran tentang tawadhu’, cinta kepada Nabi, dan penghormatan kepada ulama. Inilah modal sosial yang membuat Islam ala NU tidak mudah terjebak pada puritanisme dan kekerasan simbolik.

Namun, menjadi warga NU juga berarti bersedia bergerak maju. NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadîm al-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd al-ashlah mengajarkan bahwa tradisi dan inovasi harus berjalan beriringan. Di era digital, warga NU dituntut hadir di ruang publik baru: media sosial, platform pendidikan daring, dan ekonomi kreatif. Jika NU absen di sana, ruang itu akan diisi oleh narasi keagamaan yang sempit dan provokatif.

Lebih jauh, warga NU juga memikul tanggung jawab keumatan dan kebangsaan. Sejak awal berdiri, NU tidak hanya memikirkan keselamatan individu, tetapi juga kemaslahatan sosial. Komitmen NU terhadap NKRI, Pancasila, dan kebhinekaan bukanlah sikap politis sesaat, melainkan hasil ijtihad kebangsaan para ulama. Menjadi warga NU berarti ikut merawat Indonesia sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga dari konflik sektarian dan ideologi transnasional yang memecah belah.

Dalam konteks global, wajah Islam yang ditampilkan NU memiliki arti strategis. Dunia yang lelah oleh terorisme dan radikalisme membutuhkan contoh Islam yang damai, rasional, dan spiritual. Warga NU, dengan tradisi pesantren dan akhlak wasathiyah-nya, sejatinya sedang membawa misi peradaban: membuktikan bahwa Islam dan kemanusiaan tidak pernah bertentangan.

Karena itu, ber-NU di era global bukan hanya soal mengikuti organisasi, melainkan soal mengambil posisi moral dan intelektual. Ia adalah pilihan untuk berdiri di pihak Islam yang mempersatukan, bukan memecah; mencerahkan, bukan menghasut; membangun, bukan meruntuhkan.

Menjadi warga NU hari ini berarti menjadi penjaga warisan ulama sekaligus arsitek masa depan umat. Dan dalam dunia yang kian bising oleh kebencian dan kesalahpahaman, peran ini justru menjadi semakin penting. ***