Beranda Sindikasi Kadis Pertanian Tinjau BUMDes Desa Alam Endah, Produksi Ayam Petelur di Atas...

Kadis Pertanian Tinjau BUMDes Desa Alam Endah, Produksi Ayam Petelur di Atas 90 Persen

BANDUNG (Aswajanews.id) – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ir. Hj. Ina Dewi Kania, M.P., meninjau peternakan ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Senin (9/2/2026). Dari hasil pemantauan di lokasi, tingkat produksi telur tercatat telah melampaui 90 persen.

Di tengah udara dingin khas Rancabali, Ina memasuki kandang utama didampingi Kepala Desa Alam Endah, H. Awan Rukmawan. Ia memperhatikan kondisi ternak sekaligus mendengarkan penjelasan mengenai pengelolaan budidaya.

Menurut Ina, capaian produktivitas tersebut berada di atas rata-rata umum budidaya ayam petelur.

“Kalau rata-rata produksi ayam petelur itu sekitar 80 persen dalam satu periode, di sini sudah di atas 90 persen, bahkan mendekati 97 persen. Itu artinya penanganan budidayanya sudah sangat baik,” ujar Ina.

Ia menjelaskan, tingginya produktivitas tidak terlepas dari pengelolaan pakan, kebersihan kandang, serta sarana pendukung yang memadai.

“Mulai dari manajemen pakan tidak bisa asal-asalan, kemudian kondisi kandang harus terjaga, sirkulasi udara diperhatikan. Kalau semua itu berjalan baik, timbal baliknya ayam sehat dan produksi telurnya meningkat,” katanya.

Ina juga menilai usaha ayam petelur dapat menjadi salah satu langkah sederhana dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.

“Satu ekor ayam bisa menghasilkan satu butir telur per hari. Kalau dalam skala kecil saja, misalnya belasan ekor, itu sudah bisa membantu kebutuhan gizi beberapa rumah tangga. Apalagi ini dikelola BUMDes, berarti ada nilai ekonomi yang berputar di desa,” tuturnya.

3B0E55F1 F34E 4850 8E5E B2D1532F82D5
Pengelola BUMDes Alenda saat melakukan penanganan telur

Sementara itu, Kepala Desa Alam Endah, H. Awan Rukmawan, mengatakan saat ini populasi ayam mencapai sekitar 2.000 ekor dengan produksi rata-rata lebih dari 100 kilogram telur per hari. Telur dipasarkan ke warung dan toko di wilayah setempat, disuplai ke tiga dapur MBG terdekat, serta dijual ke pedagang grosir.

Untuk menjaga stabilitas produksi di tengah suhu rendah dan kabut yang kerap turun, perawatan dilakukan lebih intensif. Eep, pengelola unit ayam petelur, menyebut penyemprotan minyak GPU dilakukan tiga kali dalam sepekan disertai pemberian vitamin.

“Karena di sini cuacanya dingin, kami jaga supaya ayam tidak stres. Vaksinasi juga rutin dan kualitas telur dicek berkala,” ujarnya.

Saat ini, harga telur berada di kisaran Rp 27 ribu per kilogram. Pengembangan usaha direncanakan dilakukan bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi.

(Reporter: Uus)