BREBES (Aswajanews) – Sebagai kader NU di lingkungan pelajar, pemahaman terhadap Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh berhenti pada tataran simbolik dan narasi semata. Sejarah, perkembangan, hingga posisi NU hari ini harus dipahami secara utuh agar militansi organisasi tumbuh berbasis ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Hal tersebut disampaikan KH Musyaffa, Lc atau yang akrab disapa Gus Syaffa, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pendalaman Ahlussunnah wal Jamaah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat (PK) IPNU–IPPNU SMA NU Al Fattah Tegalgandu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.
“Sebagai kader NU, khususnya pelajar, jangan berhenti pada narasi. Militansi organisasi harus diwujudkan melalui pemahaman ideologi Ahlussunnah wal Jamaah yang kokoh,” tegas Gus Syaffa di hadapan peserta diskusi.
Menurut Pimpinan Yayasan Al Fattah Tegalgandu tersebut, tradisi keagamaan NU memang harus terus dijaga, namun penguatan ideologi menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda NU. Ia menyoroti masih banyak sekolah berlabel NU, tetapi siswanya belum memahami NU secara mendalam.
“Oleh karena itu, pendalaman Aswaja melalui sistem diskusi seperti ini penting untuk membuka cakrawala berpikir dan memperkuat identitas ke-NU-an di kalangan pelajar,” ujarnya.
Alumni Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah itu berharap forum diskusi memiliki output yang jelas dan terukur, sehingga kegiatan PK IPNU–IPPNU SMA NU Al Fattah dapat menjadi ekstrakurikuler unggulan dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Gus Syaffa menegaskan bahwa militansi organisasi hanya bisa dibangun melalui komitmen dan langkah nyata dalam memahami ideologi. Aswaja, menurutnya, merupakan fondasi utama dalam berorganisasi di NU.
“Pemahaman Aswaja harus dimulai dari sejarahnya hingga konteks kekinian, karena Aswaja adalah pemahaman keagamaan mayoritas umat Islam di dunia,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya sikap kritis dalam memahami keagamaan. Melalui forum diskusi, pelajar didorong untuk berdialog secara interaktif, mengkaji, dan mengkritisi kiprah NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari masa ke masa.
Mengakhiri sambutannya, Gus Syaffa menegaskan bahwa pelajar di lingkungan sekolah berlabel NU harus memiliki pemahaman ke-NU-an yang lebih mendalam dibanding pelajar di lembaga pendidikan non-NU.
Kegiatan Pendalaman Aswaja yang digelar pada Jumat, 6 Februari 2026 tersebut menghadirkan narasumber Sekretaris MWC NU Wanasari, Akhmad Sururi. Dalam paparannya, Sururi mengajak peserta memahami sejarah berdirinya NU di Indonesia, yang dilatarbelakangi semangat nasionalisme kebangsaan serta upaya membendung masuknya paham Islam Wahabi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SMA NU Al Fattah, Rikhatul Unim, S.Pd, yang memberikan sambutan pembukaan. Ketua PK IPNU–IPPNU SMA NU Al Fattah, dua orang pembina, serta seluruh peserta didik juga tampak mengikuti kegiatan dengan antusias.
(Red/Nas)