BANDUNG (Aswajanews) – Ketertarikan warga negara asing terhadap pencak silat kembali terlihat. Seorang pesilat asal Denmark, Christian Zilstorff Munch-Andersen, memilih datang langsung ke Indonesia untuk menelusuri akar dan filosofi pencak silat, seni bela diri tradisional warisan budaya Nusantara.
Christian mulai mengenal pencak silat sekitar 30 tahun silam.
Tepatnya pada 1992, saat usianya masih 19 tahun, ia diperkenalkan dengan pencak silat oleh seorang pendekar keturunan Indonesia yang bermukim di Belanda. Pendekar tersebut bahkan sempat datang ke Denmark untuk mengenalkan dan mengajarkan pencak silat secara langsung kepadanya.
Sebelum menekuni silat, Christian telah mempelajari beberapa seni bela diri lain, seperti karate dan yudo. Namun, dari seluruh bela diri yang ia pelajari, pencak silat justru menjadi pilihan utama.
Menurutnya, silat memiliki keunikan tersendiri, tidak hanya dari sisi teknik, tetapi juga kaya akan nilai filosofi dan budaya yang tidak dimiliki bela diri lainnya.
Keseriusannya membawa Christian bertemu dengan Perdy Pekor Kon, seorang pendekar keturunan Sunda asal Bandung dengan latar belakang Belanda–Jerman yang menetap di Belanda. Dari sosok inilah Christian mendalami aliran Setia Hati Anoman Bandung, yang kemudian berkembang di Belanda dan sejumlah negara Eropa.
Setelah Perdy Pekor Kon wafat, Christian melanjutkan proses belajarnya kepada murid sang guru, yakni Lui Peranye, seorang keturunan Indonesia yang datang ke Indonesia pasca Perang Dunia II dan mendapat amanat untuk meneruskan ajaran pencak silat. Dari Lui Peranye pula, Christian memperoleh penegasan kuat bahwa pencak silat berasal dari Indonesia.
Dalam perjalanannya, Christian—yang akrab disapa Kris—sempat bertanya kepada gurunya, kepada siapa ia seharusnya berguru dan bersilaturahmi apabila suatu saat datang langsung ke Indonesia. Jawaban tersebut membawanya pada jaringan pencak silat yang memiliki keterkaitan dengan Kementerian Kebudayaan, khususnya di wilayah Bandung dan Jawa Barat.
Melalui program binaan Kementerian Kebudayaan, Kris kemudian diperkenalkan dan diajak berkunjung ke Kampung Silat Nagarakembang. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian sekaligus penguatan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang kini mendunia.
(Nano)