ADA semacam fatwa (petuah) yang cukup populer: gantungkan cita-cita setinggi langit. Tapi jangan salah, dalam perjalanan hidup seseorang semnua tergantung takdir Allah, sebab hasilnya bisa warna-warni kaya lagu pelangi ciptaan AT Mahmud yang alangkah indahnya.
Bisa hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Ada yang bisa tercapai seluruhnya atau cuma sebagian, atau malah tidak sesuai dengan yang dicita-citakan sama sekali.
Seperti itulah jalan hidup seorang laki-laki bernama Sahal Suhana. Pria kelahiran Manis Kidul, Desa Suksimut, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan yang kini berusia 71 tahun. Waktu anakp-anak ia bercita-cita ingin jadi santri di pesantren.
Namun takdir Allah menentukan lain, justeru Allah memberinya martabat yang jauh lebih baik. Dia sekarang mrnjadi prmimpin dan pemilik sebuah pondok pesantren yang terbilang besar dan maju. Luas tanahnya saja 8 hektare, santrinya lebih dari seribu. Mungkin termasuk yang terbesar dan termaju di Jawa Barat.
Sahal lahir 11 Juni 1954 di Desa Suksimut, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Ketika usia 7 tahun ia ngebet pingin masantren di Babakan Ciwaringin Cirebon Kebetulan pimpinan pondoknya K.H. Abdul Halim guru ngaji Sahal di Ciporang Lebakwangi. Ayahnya Atma Perwata mrmasukan Sahal ke SD Negero 1 Garawangi.
Waktu duduk di SD Sahal oleh orang tuanya masih tidak diizinkan masuk pesantren kakaknya yang sudah bekerja di Jakarta mengusulkan Sahal masuk SMP. Alasannya karena ayahnya akan pensiun sebagai pamong desa.
Jarak antara rumsh dengan sekolah saat itu cukup jauh, sekitar 10 Km dan Sahal setiap hari jalan kaki 2X10km. Kehidupan itu dia jalani dengan senang. Dia juga tetap belajar mengaji kepada Kiyai Halim di Ciporang.
Tahun 1970 Sahal tamat SMP. Sudah kadung gagal.masuk pesantren, ia dimasukkan orang tuanya ke SMA Negeri,I Kuningan. Tahun kedua ia diminta ayahnya untuk tinggal bersama pamannya yang menjadi guru SPG di Kuningan.
Selama tinggal bersama sang paman ia dapat bimbingan belajar. Iapun dengan teman teman SMAN tetap belajar mengaji ke Ciporang.
Lulus SMA tahun 1973 langsung ke Jakarta, seraya ikut testing PNS di Pemprov. DKI, dan lulus. Dengan pangkat awal golongan IIA ia mulai karir sebagai staf pada Sekretaris Dinas Tata Kota.
Karena masih bujangan gajinya sebagai PNS Golongan II dianggap cukup bahkan berlebih. Karena itu Sahal terus berlajar dan pada sore hari kuliah di Fakultas Hukum sebuah universitas dan lulus sebagai sarjana hukum tahun 1988.
Dengan ijazah sarjana pangkatnya loncat ke III/a. Jabatanpun datang sesuai dengan ijazahn ya. ia menjadi Sekretaris Diknas Tata Kota, selanjutnya menjadi Wakil Kepala Dinas.
Hidupnya yang hemat dan jujur maka rezekinya terus berlimpah. Sekarang tiba saatnya ia memikirkan kehidupan sosial.Rezekinya dimanfaatkan untuk membantu orang yang kekurangan,baik di Jakarta maupun di kampung.
Tahun 1994 ia dan istrinya NiningIrmawati mendirikan pondok pesantren yang ia namakan Husnul Khatimah. Pondok pesantren itu diresmikan Bupati Kuningan halaman.
Setelah berumah tangga dengan gadis sekampungnya itu kehidupannya Lebih tertata. Kegiatan sosial tetap berjalan, setehun 2 kali dia membagikan infaq kepada kaumn duafa.. Hampir setiap tahun pergi umrah bersama istri. Kebahagiaan Lebih terasa setelah dikaruniai 4 orang anak
Yang mejehgejutkan adalah langkah nekadnya mengambil pensiun muda. Pada tahun 1999 dalam usia 45 tahun dia resmi pensiun dari Pemda Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya pulang kampung dan masuk Partai Politik Partai Keadilan Sejahtera. Dia sempat menjadi sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Kuningan tahun 1999-2004.
Tanggal 20 Agustus 2005 suami istri itu menggelar pesta 25 tahun pernikahan . Ada nadzar disitu: Pertama akan menunaikan ibadah umroh, ke-dua akan membeli lahan/ tanah untuk makam keluarga dan ke-tiga akan membangun pondok pesantren tahfids Qur’an.
Waktu kami tour de pasantren tahun 2015 semua nadzar itu sudah dilaksanakan. Tanah makam sudah ada. Pondok pesantren sedang dibangun di atas tanah 8 hektare tak jauh dari Pondok Pesantren Husnul khatimah.
Semua putrinya adalah alumni Ponpesd Husnul Khatimah dan ketiga mantu yang lulusan Al Azhar ikut aktif di Husnul khatimah.
Itulah Sahal Suhana, cita cita cuma jadi santri mslah jadi jendral santri , memiliki dua pondok pesantren besar dan maju. Alhamdulillah. ***
Penulis; DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)