Pendidikan Islam di Pondok Pesantren dalam Perspektif Islam Nusantara
Pondok pesantren merupakan fondasi utama dalam perjalanan sejarah pembentukan peradaban Islam di Nusantara. Keberadaan dan perkembangan entitas ini bukan hanya sekadar sebagai lembaga pendidikan keagamaan, melainkan sebagai tempat interaksi antara nilai-nilai ilahiah dan realitas sosial manusia. Dalam pandangan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, pesantren memegang peranan penting sebagai penjaga keberlanjutan Islam yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan, kebijaksanaan, serta tanggung jawab sosial. Di sinilah Islam Nusantara menemukan maknanya sebagai ungkapan keberislaman yang dinamis, relevan, dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Islam Nusantara, seperti yang sering ditekankan oleh Gus Yahya, tidak merupakan sekte atau ideologi tandingan terhadap Islam itu sendiri. Sebaliknya, ini adalah cara untuk memahami dan menghidupi Islam melalui pengalaman sejarah, budaya, dan realitas masyarakat Nusantara. Islam bukan untuk menghapus budaya, tetapi untuk memuliakan manusia dengan pendekatan yang beradab dan bijaksana. Dalam konteks ini, pesantren berfungsi sebagai ruang penting untuk menjaga keseimbangan antara kesetiaan pada ajaran Islam dan keterbukaan terhadap perkembangan zaman.
Pesantren dan Pendidikan Islam: Memelihara Akal, Etika, dan Kemanusiaan
Menurut pandangan Gus Yahya dalam berbagai kesempatan, pendidikan Islam di pesantren seharusnya tidak dipersempit hanya sebatas transfer ilmu fikih atau penguasaan teks-teks klasik. Sebaliknya, pendidikan harus menjadi proses pembentukan individu secara utuh—mendapatkan pencerahan pikiran, kelembutan hati, dan gerakan yang diarahkan pada kebaikan bersama. Pesantren lebih dari sekedar tempat belajar, melainkan juga tempat untuk membentuk karakter dan kesadaran moral.
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), pesantren menyediakan dasar yang signifikan bahwa pendidikan agama perlu menumbuhkan kesadaran etis, bukan sekadar ketaatan simbolis. Gus Yahya sering menyatakan bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini bukan kurangnya pengetahuan agama, tetapi ketidakmampuan dalam mengaktualisasikan nilai kemanusiaan dalam praktik beragama. Ketika agama kehilangan dimensi etikanya, ia berpotensi menjadi alat untuk tindakan kekerasan, baik secara simbolis maupun sosial.
Karena itu, pendidikan Islam yang berbasis pesantren wajib melatih santri untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan bertanggung jawab. Tradisi keilmuan pesantren seperti bahtsul masail, musyawarah, dan pengkajian turats sebenarnya adalah latihan intelektual untuk menghargai perbedaan pandangan serta mengembangkan kedewasaan berpikir. Ini adalah bentuk pendidikan demokratis yang berasal dari tradisi Islam itu sendiri.
Martabat Manusia: Inti Etika Islam dalam Pandangan Gus Yahya
Salah satu fokus pemikiran KH. Yahya Cholil Staquf adalah penekanan pada martabat manusia sebagai dasar etika Islam. Menurutnya, Islam hadir untuk menjaga kehormatan manusia tanpa melihat latar belakang agama, etnis, atau identitas sosial. Prinsip ini sejalan dengan maqāṣid al-syarī‘ah, terutama dalam melindungi jiwa, akal, dan kehormatan manusia.
Dalam konteks pesantren, penghormatan terhadap martabat manusia seharusnya menjadi jiwa pendidikan. Santri tidak dilatih untuk merasa paling benar, tetapi untuk menyadari keterbatasan diri dan menghormati keberadaan orang lain. Gus Yahya kerap menegaskan bahwa merendahkan martabat manusia atas nama agama justru bertentangan dengan tujuan agama itu sendiri.
Martabat manusia juga menjadi landasan dalam membangun hubungan sosial yang adil dan beradab. Pendidikan Islam yang berakar pada nilai ini akan menciptakan individu yang menolak kekerasan, diskriminasi, dan dehumanisasi dalam bentuk apapun. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menghasilkan ahli agama, tetapi juga penjaga nilai kemanusiaan yang universal.
Etika Perdamaian: Prinsip Pendidikan di Pesantren
Dalam pemikiran Gus Yahya, damai bukan hanya kondisi tanpa pertikaian, tetapi hasil dari etika sosial yang dirancang dengan kesadaran. Pesantren memiliki posisi penting dalam menanamkan etika perdamaian sebagai cara hidup yang saling menghargai dan bermartabat.
Islam Nusantara mengajarkan bahwa perbedaan adalah hal yang tidak terhindarkan dan harus dihadapi dengan kebijaksanaan, bukan dengan permusuhan. Pendidikan Islam harus mengembangkan pemahaman yang matang tentang perbedaan, baik dalam mazhab, agama, maupun pandangan sosial-politik. Pesantren menjadi tempat yang aman untuk belajar berdiskusi tanpa prasangka atau kebencian.
Gus Yahya sering mengingatkan bahwa konflik biasanya muncul bukan dari perbedaan itu sendiri, tetapi dari ketidakmampuan memahami kemanusiaan orang lain. Oleh karena itu, pendidikan di pesantren harus menekankan pentingnya menjaga perdamaian sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
Tanggung Jawab Global: Pesantren di Panggung Internasional
Dalam konteks dunia yang lebih luas, Gus Yahya berpendapat bahwa umat Islam, termasuk pesantren, tidak boleh berperilaku eksklusif atau defensif. Dunia saat ini saling terhubung, dan isu-isu kemanusiaan bersifat universal. Pesantren harus dapat mencetak generasi yang memiliki kesadaran global, tanpa melupakan akar tradisinya.
Tanggung jawab global berarti kesiapan untuk berpartisipasi aktif dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan di tingkat internasional. Pesantren seharusnya tidak hanya berbicara atas nama umat Islam, tetapi juga untuk kemanusiaan pada umumnya. Inilah bentuk tanggung jawab moral yang sesuai dengan ajaran Islam sebagai berkah bagi seluruh umat.
Pesantren sebagai Pelindung Peradaban kini dan di masa depan, pendidikan Islam di pesantren menurut pandangan Islam Nusantara karya KH. Yahya Cholil Staquf adalah usaha untuk merawat kemanusiaan melalui nilai-nilai Islam yang hidup, inklusif, dan beradab. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pembentukan peradaban yang mengangkat martabat manusia, mengajarkan etika perdamaian, dan menumbuhkan tanggung jawab global.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi konflik dan perpecahan, pesantren memiliki kesempatan besar untuk menjadi penunjuk moral. Dari pesantren, Islam tidak hanya sekadar diajarkan, tetapi juga dihidupkan sebagai cahaya yang membimbing manusia menuju kehidupan yang adil, damai, dan bermartabat.
*Oleh: A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. (Mahasiswa Pascasarjana FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)